Lebih Baik Salah Jurusan Dibanding Salah Strategi

Salah jurusan, atau salah strategiKuliah memang bikin kita gila kalau kita tidak menyukai apa yang kita pelajari. Tapi lebih gila lagi kalau ternyata apa yang kita sukai dan kita pelajari mati-matian selama 4 tahun atau lebih, tapi ternyata ketika lulus kita hanya jadi pengangguran karena persaingan yang terlalu padat.

Ini cerita nyata saya sendiri. Tahun ini saya memiliki 2 saudara yang keduanya lulus cum laude di Universitas Indonesia dari jurusan yang selalu masuk 3 besar tiap tahunnya di rumpun IPA dan IPS. Namun sudah hampir 6 bulan kedua saudara saya masih belum juga mendapatkan pekerjaan. Saya sedikit terheran-heran kenapa kok bisa ya lulusan cum laude dari jurusan terfavorit di universtitas terbaik di Indonesia masih menganggur? Akhirnya setelah sedikit berbincang-bincang dengan saudara saya yang sedang menunggu panggilan dari hasil lamaran kerja bercerita kenapa sulit sekali mendapatkan pekerjaan di masa kini.

1. Jumlah Lulusan Tiap Tahun
Nggak usah heran kalau pencari kerja di Indonesia jumlahnya banyak banget. Karena memang jumlah lulusan S1 dari universitas negeri maupun swasta jumlahnya berkali-kali lipat dibandingkan dengan kuota lowongan pekerjaan. Jadi ketika perusahaan membuka lowongan di koran nggak usah kaget yang mendaftar pekerjaan bisa mencapai ratusan orang. Bahkan untuk perusahaan internasional yang memasang iklan lowongan dengan halaman besar bisa mencapai ribuan orang dan ironisnya dari ribuan orang yang mendaftar umumnya paling hanya 1-5 orang saja yang dibutuhkan oleh perusahaan tersebut.

Nggak usah jauh-jauh, dari UI sendiri saja contohnya lulusan tiap tahunnya berjumlah ribuan sarjana. Karena memang jumlah kuota mahasiswanya sudah banyak. Bisa kita bayangin aja sebuah program studi tiap tahunnya meluluskan lebih dari seratus orang sarjana. Apalagi untuk jurusan-jurusan favorit, umumnya kuota mahasiswanya lebih dari yang kita bayangkan. Karena jumlahnya yang banyak, tiap angkatan bisa jadi bumerang buat kita ketika kita sadar kalau saingan terberat kita adalah teman kita sendiri.

2. Saingan Berpengalaman
Udah dapet kerja kok masih ngelamar lagi? Ini nih yang bikin sarjana segar kesal. Karena orang yang sudah mendapatkan pekerjaan dan jabatan ternyata masih penasaran untuk bekerja di tempat lain yang membuka lowongan. Sialnya mereka jauh lebih unggul daripada sarjana segar karena mereka memiliki pengalaman kerja, belum lagi jika disertai sertifikat sebagai karyawan teladan yang mempunyai prestasi di tempat kerjanya. Itu menjadi nilai telak bagi sarjana segar karena pengalaman kerja dan prestasi kerja dari seorang sarjana yang sudah pernah bekerja resmi di suatu perusahaan itu merupakan nilai yang sangat diperhitungkan pada lowongan kerja.

Nah itulah celakanya, sudah bersaing dengan teman sendiri, kita harus bersaing dengan senior yang sudah punya pengalaman bekerja. Apalagi jika orang yang melamar kerja itu adalah senior kita sendiri di kampus. Hehehe

3. Persaingan dengan orang nyasar.
“Kamu kan lulusan S1 dari jurusan xxxx, kenapa ngelamar di posisi ini?” Lucu dengernya ya. Tapi itulah yang seringkali terjadi karena kebanyakan posisi yang ditawarkan pada perusahaan itu seringkali hanya mengisyaratkan persyaratan lulusan S1 tanpa embel-embel dari jurusan mana. Padahal posisi yang ditawarkan sebenarnya ada jurusannya sendiri dalam dunia perkuliahan. Nah, alasan kenapa mereka hanya mencantumkan persyaratan “S1″ tanpa embel-embel dari program studi tertentu karena belum tentu yang memiliki ilmu dari program studi tertentu selalu lebih mahir daripada orang yang mempunyai latar belakang ilmu tertentu. Terkadang karena apa yang ia pelajari di jurusannya itu membuat pewawancara pekerja tertarik dengan apa yang ia pelajari dan ingin menggali ilmunya lebih dalam. Jadi terkadang ini bisa menjadi nilai plus dari apa yang seharusnya dibutuhkan oleh perusahaan.

Poin ini jangan dianggap main-main juga loh, karena saya sering menemukan direksi, manajer dan lain-lain pada perusahaan BUMN dan swasta dari jurusan yang nggak nyambung sama sekali dan banyak sekali contohnya. kalau lulusan Institut Pertanian kerja di bagian perbankan sepertinya sudah populer. tapi yang unik dalah paman saya sendiri. Karena dia bisa menjadi direksi dari perusahaan asuransi padahal dulu S1-nya kedokteran hewan. Bener-bener nggak nyambung kan asuransi sama dokter hewan? hehehe

Waduh, kayanya kalau ngeliat tiga poin diatas serem banget nih menghadapi masa depan. Nggak juga kok, asalkan kita punya strategi dalam memilih jurusan. Setidaknya ada beberapa tips dari saya untuk memilih jurusan nih.

1. Jadilah orang yang idealis
Kalau kita senang dengan jurusan yang kita suka dan tetap ngotot untuk masuk kesana walau sudah tau dengan apa yang akan kita hadapi di masa depan anda harus menjadi orang yang idealis. Karena ketika menjadi orang yang idealis dan mempunyai hasrat di jurusan tersebut, anda tidak perlu bingung jika anda menjadi pengangguran. Karena setelah lulus pun kalian bakalan akan terus menekuni ilmu tersebut dan cenderung akan mengamalkan kepada orang lain. Orang-orang idealis seperti Soe Hok Gie inilah yang kita rindukan untuk mengabdikan dirinya untuk ilmu yang ia pelajari.

2. Pilihlah jurusan yang permintaan kerja lebih banyak dibandingkan sarjana
Masa iya sih ada jurusan yang lulusannya dicari lebih banyak daripada lulusan sarjana yang dihasilkan tiap tahunnya? Ada kok, dan umumnya jurusan yang seperti ini adalah jurusan yang tidak begitu favorit dan tidak begitu dikenal masyarakat umum. Walaupun begitu bukan berarti jurusannya jelek, justru karena kelangkaannya itulah lulusannya ditarik dimana-mana. Makanya kita jangan pernah meremehkan jurusan yang jarang kita dengar. Namun ada satu permasalahan yang sangat penting untuk mendapatkan jurusan seperti ini, yaitu informasi. Buat teman-teman yang mau masuk kuliah kalau bisa cari sebanyak mungkin informasi mengenai jurusan. Karena belum tentu jurusan favorit lebih menjanjikan dibanding jurusan yang tidak favorit, bahkan realita saat ini menunjukan sebaliknya.

3. Pilih jurusan yang sulit untuk dipelajari sarjana lain
Terkadang untuk ilmu-ilmu sosial, ekonomi dan hukum mudah untuk dipelajari orang yang memiliki dasar ilmu lain. Bukannya berpikir stereotype, tapi memang realita seperti itu. Banyak saya temukan orang-orang yang ahli dalam suatu ilmu padahal ia bukan berasal dari disiplin ilmu tersebut. Tapi untuk suatu ilmu yang benar-benar harus dipelajari secara keseluruhan dari awal itu yang sulit dicari. Contohnya untuk sastra-sastra asing, jurusan dari rumpun ipa dan disiplin ilmu lain yang benar-benar berbeda dari apa yang kita pelajari selama dibangku sekolah. Dengan memilih jurusan seperti ini kita akan terhindar dari persaingan orang-orang dari jurusan nyasar.

4. Pilihlah jurusan dari universitas terbaik
Dari ketiga poin diatas saja menurut saya tidak cukup. Tapi kita juga harus masuk ke dalam universitas yang terbaik meskipun dari disiplin ilmu yang jarang. Sehingga kita menjadi sarjana yang bisa dibilang the best of the best dari disiplin ilmu yang kita pelajari di kuliah nanti. Sehingga ketika kita lulus nanti tidak perlu diragukan lagi bahwa kita adalah orang yang benar-benar di-didik dari naungan universitas terbaik untuk program studi tersebut. keren kan?

5. Nikmati prosesnya
Walaupun jurusan yang kita telisik memiliki  prospek bagus ternyata tidak  kita sukai ilmunya usahakan nikmatilah prosesnya. Contohnya seperti saya sendiri, saya dulu tidak suka dengan jurusan yang saya pilih pada awalnya. Saya merasa saya memilih jurusan karena saya hanya memikirkan prospek ke depannya saja. Tapi akhirnya ketika saya menjalaninya saya justru menjadi cinta dengan apa yang saya pelajari bahkan membuat blog tentang disiplin ilmu tersebut karena artikel disiplin ilmu tersebut yang berbahasa indonesia masih sedikit. Itu semua karena saya berusaha mencintai apa yang saya kerjakan dengan menjadi mencoba menjadi orang-orang yang ikhlas, bersemangat dan bersyukur dengan apa yang di dapat. Tapi kita juga harus tau  kemampuan kita karena beberapa disiplin ilmu memiliki kesulitan tersendiri. Maka dari itu saya juga menyarankan juga ketika mendapat jurusan yang memiliki prospek bagus kita lihat ke diri kita terdahulu. Apakah kita sanggup untuk belajar mengenai disiplin ilmu tersebut? Jangan sampai kita menyesal karena yang kita pelajari terlalu menyita waktu kita sehingga kita tidak bisa belajar hal lain yang berguna bagi diri sendiri.

Kesimpulannya dari semua yang udah saya tulis sih simpel. cari informasi sebanyak mungkin, mulai dari jurusan yang kamu inginkan hingga jurusan-jurusan lain yang jarang kamu dengar. Karena belum tentu jurusan favorit itu selalu menjanjika masa depan kalian. Makanya datang ke acara-acara seperti bedah kampus itu sebenarnya penting banget karena kamu bakal dapat informasi-informasi bagus sehingga kamu nggak salah strategi untuk mendapatkan masa depan yang cerah.

Jadi, setelah baca tulisan ini jangan sampai kalian salah strategi ya dalam memilih jurusan! :)

About these ads

6 thoughts on “Lebih Baik Salah Jurusan Dibanding Salah Strategi

  1. Agus Pristianto

    anda tahu….bahwa tulisan anda benar2 bagus. saya merasa tulisan anda membantu saya menentukan pilihan.
    ada pelajaran besar yang saya bisa dapatkan…
    kata-kata :
    “Jangan sampai kita menyesal karena yang kita pelajari terlalu menyita waktu kita sehingga kita tidak bisa belajar hal lain yang berguna bagi diri sendiri”.

    terimakasih banyak….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s